Film terbarunya Amitabh Bachchan ini ngingetin Z sama sidang kasus pembunuhan Wayan Mirna Salihin yang bikin greget. Bedanya, sidang di film ini bukan tentang kasus pembunuhan dengan racun, tapi kasus yang lain.
Cerita dimulai dengan 4 orang laki-laki di dalam mobil yang kalap menuju rumah sakit karena salah seorang temannya, Rajvit Singh, terluka parah di bagian dahinya.
Di mobil yang lain, ada tiga orang perempuan yang sama-sama terlihat galau dan gelisah, yang nunjukkin seakan-akan mereka adalah penyebab luka yang ada di dahi Rajvit Singh.
Awalnya Z bingung, ini cerita tentang apa sih? Maksudnya gimana? Apa mereka ada hubungannya dengan luka itu? Itu luka kenapa? Awas we lamun ngagantung ceritana sampe akhir. Dan lain-lain.Cukup lama bikin penasaran, sampe akhirnya ketiga cewek itu dilaporkan ke polisi atas kasus percobaan pembunuhan.
Sebelumnya, si 3 cewek juga pernah melaporkan Rajvit Singh ke polisi atas kasus pelecehan seksual. Tapi polisi nggak ada yang ngegubris karena Rajvit Singh ini adalah keponakan orang yang berpengaruh di India, jadi mereka takut kenapa-kenapa kalau ada laporan tentang Rajvit.
Ketika ketiga cewek ini dilaporkan, mereka punya kesempatan membela diri. Tapi nggak ada pengacara yang mau bantu karena takut dengan pengaruhnya paman Rajvit. Sampe akhirnya seorang pengacara yang sudah pensiun dan sedang dalam masa pengobatan, Deepak Sehgal (diperankan oleh Amitabh Bachchan) mau menolong mereka.
Sidangnya ini lho yang bikin penasaran. Deg-degan, tegang, ada fitnah, ada fakta, ada hal-hal yang tak terduga, ada pengungkapan realitas, dll. Dan ujungnya gimana coba? Ya.. tonton aja sendiri ya :D
Btw yang masih Z nggak ngerti adalah, apa kaitannya isi cerita di film ini dengan JUDUL nya yang PINK? Hihi. I dunno lah ya yang penting filmnya seru.
Senin, 31 Oktober 2016
Minggu, 26 April 2015
Pengalaman Mendaki ke Puncak Rakutak
Ada cerita yang sedikit mistis dari perjalanan Walk 4 Free
ke Puncak Rakutak kali ini.
Sebelumnya harap diketahui, perjalanan yang seharusnya tidak
memakan waktu terlalu lama ini terasa lebih panjang karena melibatkan berbagai
kalangan. Ibu-ibu, bapak-bapak, lajang, gadis, hingga LSL (lelaki suka lelaki),
sehingga kami sering berhenti untuk sekedar istirahat, merumpi, popotoan, atau
menggoda pendaki lain.
Kami menemukan satu-satunya warung yang ada di ketinggian
lebih dari 700 mdpl. Pemilik warung tersebut adalah pria sederhana dengan
sandal jepit hampir putus. Dari hasil wawancara yang dilakukan Dina, diketahui
bahwa meskipun penampilannya sederhana, omset dagangannya bisa mencapai
500ribu/hari.
Warung tersebut buka 24 jam, menjual bala-bala, teh manis, dan
kopi. Dan ia pulang ke rumah hanya 1x dalam seminggu. Penjual tersebut memberi
tahu, di atas sudah tidak ada lahan untuk memasang tenda karena pada hari itu
ada 100 lebih pendaki lain dari luar Bandung yang sedang mendaki. Akhirnya kami
memutuskan memasang tenda di dekat tukang warung tersebut dan akan ke puncak
keesokan harinya.
Ba’da maghrib, Kami berkumpul di warung sambil menghangatkan
diri di sekitar perapian. Ditengah tawa kami, tiba-tiba muncul Kinoy membawa Teh
Dian dalam kondisi menggigil dan wajahnya pucat pasi. Ia beristighfar terus
menerus. Untuk sepersekian detik, kami malah tertegun. Sebelum maghrib tadi, Teh
Dian izin pergi ke tenda karena merasa kelelahan. Ini adalah kali pertama ia
naik ke gunung dengan trek seperti ini.
Melihat Teh Dian ketakutan, kami segera
merangkul dan mengelilinginya. Kami mengusapnya dan menanyakan pada Kinoy apa
yang terjadi. Sebelum Kinoy menjawab, Teh Dian tiba-tiba berteriak pada Vika, “TEH
VIKAAA!!! Itu di belakang!!!”. Vika kaget, lalu memeluk Zahra. Vika malah
memakai kacamata hitam, entah untuk apa. Kami lalu menyuruh Teh Dian berbaring
diatas tikar. Kami mengusapnya, lalu menyuruhnya membaca istighfar. Dengan
kalimat terbata-bata, Teh Dian bercerita, ketika ia sedang meringkuk di dalam
tenda, ia mendengar banyak orang masuk ke dalam tenda. Ia kira orang-orang itu
adalah kami. Semakin lama, semakin banyak. Dan tiba-tiba ada suara berbisik,
ingin memeluk Teh Dian.
Beberapa menit setelah menceritakan hal itu, Teh Dian
berhenti membaca istighfar, lalu bola matanya terus melirik kearah kiri, ke
hutan yang gelap dan tidak ada cahaya sedikitpun. Kami menghalangi pandangannya
supaya ia tidak melihat kesana, tapi Teh Dian tidak mau. Zahra menutupi wajah Teh
Dian dengan tubuhnya. Tapi Teh Dian tetap memandang ke hutan itu.
Muncul Giri dan Mas Doel yang baru tiba dari puncak. Mereka
baru saja memeriksa kalau-kalau ada lahan kosong di atas untuk memasang tenda.
Setelah tidak ada hasil, mereka kembali dan menemukan Teh Dian dalam kondisi
demikian. Giri menyuruh kami memijit jempol kaki Teh Dian dengan kencang.
Setelah kami pijit, Teh Dian tiba-tiba berteriak kencang “Aaaaaaaaaaa!!!”. Ia
bangun dan terlihat linglung.
“Kenapa pada mijitin Dian?” tanyanya heran.
Kami baru menyadari bahwa yang terjadi tadi, adalah diluar
kesadaran Teh Dian. Acong mengatakan, Teh Dian terlalu kecapean sehingga
kondisi pikirannya ikut melemah, dan menjadi kosong. Setelah kejadian ini,
Acong meminta kami lebih awas satu sama lain. Jangan memisahkan diri, dan
hindari kekosongan pikiran. (Cerita ini telah mendapat izin publikasi dari Teh
Dian)
Keesokan harinya kami mulai mendaki dan keadaan kembali
mencair seperti biasa. 11 orang pendekar kali ini adalah :
Mas Doel yang tidak pernah pundungan meski dibully, dan Mas
Doel orangnya sangat bersemangat. Bahkan dalam keadaan kram pun Mas Doel masih
semangat selfie.
“Mas, engke deui popotoanna ai keur kram Mah atuh Mas,” kata
Rosan.
Mas Doel juga sering memiliki ide buruk, “sigana ngagulutuk
ka handap rame da,”. Kami langsung menyoraki Mas Doel dan menyuruhnya
ngagulutuk sendirian.
Dina yang dijuluki alkaline karena sepanjang perjalanan
tidak pernah semenit pun berhenti bicara seakan batrenya tidak pernah habis.
Dina sering tiba-tiba berteriak “SIAPPP GRAK!!!” dengan kencang sehingga
membuat kami reuwas.
Bu Dian dan Kinoy yang seperti Tom and Jerry. Mereka sering
pa-pundung-pundung, marahan, tapi anehnya, tetap saja kemana-mana selalu
bersama. Jika ingin mencari Teh Dian, carilah Kinoy. Maka pasti ada Teh Dian
disana. Ketika Teh Dian jatuh ke kebun tomat, Kinoy siaga mendampinginya agar
Teh Dian tidak jatuh lagi.
Giri yang naik ke puncak dua kali bersama Mas Doel ketika
mengecek lahan kosong untuk pasang tenda, dan kembali tiga jam kemudian hanya
untuk memberitahu di atas tidak ada lahan kosong. Giri tidak suka jika disuruh
mengambil foto dengan sengaja, tetapi ketika orang lain tidak meminta, Giri
akan mengambil foto dengan sendirinya.
Vika yang memasakkan cream soup untuk kami ketika di puncak.
Quote favorit Vika : “Jangan lihat merk kopinya, tapi lihatlah dimana tempat
meminumnya,”. Vika juga menyerahkan sebagian bebannya kepada Giri ketika merasa
kelelahan di tengah perjalanan.
Bu Nenden yang bertemu dengan teman gowes nya yang sudah
lama tidak bertemu di atas gunung. Kami menonton sebuah drama mengharukan dimana
Bu Nenden dan temannya temu kangen dan berpelukan di tengah hutan. Pada
pendakian pertamanya ini, Bu Nenden mengaku kapok.
Acong yang sudah pernah naik ke Rakutak itu adalah lelaki
lajang yang sangat hebat karena bisa mendaki sambil tertidur (matanya
sipit-red.). Acong juga berkali-kali terpeleset di perjalanan pulang. Kami lalu
menyuruhnya segera menikah. Sama halnya seperti pada Acong, Rosan juga sering
kami suruh cepat menikah.
Rosan dan Acong yang merupakan teman satu SMA itu selalu
saling mengejek, padahal mereka sama-sama belum menikah. Selain karena belum
menikah, mereka juga saling mengejek ciri khas fisik masing-masing. Rosan
mengejek Acong “beunta atuh beunta!”, dan Acong mengejek Rosan “naon maneh
hideung”. Tapi tidak ada rasa sakit hati diantara keduanya. (Btw, Rosan adalah
mantan pengguna narkoba Ganja, yang mengalihkan ketergantungannya pada olahraga
naik gunung)
Aum, adalah seorang LSL yang sangat terbuka. Kami
mewawancarainya, apakah ia berminat berganti haluan menyukai wanita. Tapi Aum
membela diri dengan mengatakan, “Suka sama laki-laki itu nggak dosa, yang dosa
itu seksnya. Cowo suka sama cewek juga kan nggak dosa, yang dosa itu berbuat
seksnya,”. Hihi. Pendakian ini adalah pendakian Aum yang pertama. Dan ia
mengaku tidak kapok. Bahkan di pendakian selanjutnya, ia sudah mendaftarkan
diri, berikut beberapa orang temannya yang juga ingin ikut mendaki.
Sampai saat ini kami tidak tahu kenapa orang ketagihan
mendaki gunung, padahal yang dilihat sepanjang perjalanan hanya itu-itu saja.
Pohon, ranting, tanah, pacet, atau paling sial, kotoran manusia. Tapi mungkin karena
kesulitan yang dilalui, dan kepuasan yang dirasakan, kami jadi ingin dan ingin
lagi mendaki. Dan setiap gunung punya ciri khas nya sendiri.
Pengalaman Mendaki ke Puncak Gunung Ciremai
Ciremai ini adalah gunung tertinggi di Jawa Barat. Ketinggiannya 3078 mdpl. Dan termasuk salah satu gunung dengan banyak cerita angker. Ini dia cerita lengkap perjalanan kami ke Puncak Ciremai
Selama 3 hari 2 malam, pendekar walk4free melakukan
perjalanan di Gunung Ciremai. 5 orang pria (Giri, Rosan, Qinoy, Acong, dan Mang
Adin), dan 5 orang wanita (Teh Dewi, Vika, Dina, Zakia, dan Zahra).
Mang Adin adalah penjaga kantor Yayasan Grapiks yang sudah
setia selama 8 tahun bersama kami sekaligus peserta tertua di perjalanan kali
ini. Teh Dewi adalah peserta tertua kedua, dan Zakia adalah peserta termuda.
Kami sering mengkhawatirkan Teh Dewi. Pada
pendakian-pendakian sebelumnya, setiap kali kami memasuki trek yang mulai
sulit, biasanya Teh Dewi akan berubah menjadi super pendiam dan tidak akan
mengeluarkan sepatah kata pun, bahkan ketika kami bertanya sesuatu.
“Ayeuna mah Teh Dewi bisa seuri keneh. Tinggali engke
beberapa jam ke depan. Pasti jamedud,” kata Qinoy.
Tapi ternyata selama hampir 24 jam perjalanan naik dan
turun, Teh Dewi tidak melalui fase ‘always jamedud’ tersebut. Bahkan Teh Dewi
menjawab ketika Dina bertanya, “Teh wios Dina nyanyi?”. Meskipun hanya menjawab
2 kata, “Wios Din,”, tapi itu merupakan suatu kemajuan besar.
Qinoy adalah orang yang paling sering menggoda Teh Dewi.
Ketika kami naik kolbak menuju bumi perkemahan berod, di tanjakan yang curam A
Qinoy berteriak, “Teh Dewi, ganjel Teh!” (maksudnya, Teh Dewi disuruh
mengganjal ban mobil karena tubuh Teh Dewi yang cukup besar).
Di hari kedua, pukul 4 shubuh, Zahra dan Teh Dewi buang air
kecil di tengah kegelapan malam. Giliran Teh Dewi, tiba-tiba terdengar bunyi
kentut yang sangat kencang dan beruntun seakan ada benda selain angin yang
keluar dari pantatnya.
Mendadak suasana ramai dengan gelak tawa dari dalam tenda.
“Euleuh, sieun longsor kadieu eta,” Qinoy menggoda Teh Dewi
lagi. Dan kami tertawa. Ketika kami memperingati Qinoy, “Noy, tong ngaheureuyan
Teh Dewi wae, bisi bogoh,”, Qinoy menjawab tak sopan, “Moal, Teh Dewi mah tos
dianggap siga Nini abi,”. Hehe. Lancang sekali.
Meskipun tidak sopan, tapi Qinoy sangat baik hati. Ia
mengangkut tas-tas kami ke atas elf ketika perjalanan pulang, ia bahkan
mengumpulkan tissue-tissue basah yang kami gunakan untuk buang air kecil ke
dalam satu kresek supaya sampahnya tidak berceceran.
Di perjalanan kali ini juga ada Dina yang membuat perjalanan
kita semenit pun tidak pernah dihinggapi sepi. Dengan banyak bicara dan
bernyanyi, ia mendapat energy lebih banyak. Zakia ikut menyanyi bersama bibinya
itu. Dina juga sering membuat kami tertawa dengan sifatnya yang jail, yang
senang menggoda acong dan mengatakan bahwa Acong telah mengalihkan dunianya.
Dina juga sangat seterong. Dalam kondisi kaki yang terkilir, Dina masih bisa
mengangkut carriernya dan berceloteh panjang lebar. Konon, ia merasa malu oleh
The Dewi yang usianya jauh lebih tua darinya tapi bisa melewati semuanya. Ketika
ada 6 orang pendaki remaja yang terjebak tengah malam di tenda kami karena
hujan, Dina lah yang membuatkan mereka cream soup dan memanaskan air minum
untuk mereka ketika kami semua sudah siap dalam posisi tidur.
Tapi Dina agak lemot juga. Dari awal keberangkatan, kami
sudah berencana akan ngecamp di pos 3 untuk malam pertama.
“Mending pas engke di pos 3, urang ngecamp heula,” Dina sok
memberi ide.
“Kan emang kitu rencanana kak,” kata Zahra.
Lalu Rosan berpura-pura lemot juga untuk menyindir Dina,
“Ceuk urang mah mending di pos 3 we ngecamp na,”
“Ih ulah. Mending di pos 3 we,” Teh Dewi ikut-ikutan.
“Kumaha mun di pos 3 wae?” Tanya Vika ikut bodoh.
“Ah, udah di pos 3 aja lah,” Rosan lebih bodoh lagi.
“Tos atos. Urang Tanya pendapat A Giri. Ceuk A Giri mending
kumaha?” Qinoy sok menengahi.
A Giri menjawab singkat, “karoslet kabeh,”
Lalu kami pun tertawa.
Perjalanan kali ini benar-benar membuat kami semua korslet.
Bahkan Mang Adin pun ikut-ikutan.
Ketika istirahat di sebuah tempat, Dina menceritakan bahwa
dulu gigi Teh Dewi ditempeli berlian. Entah benar atau tidak, karena Dina
memang suka mengarang cerita semacam itu. Ketika berkenalan dengan pendaki
lain, Dina mengatakan bahwa Teh Dewi punya pabrik roti dan tahu, padahal itu
hanya karangannya saja. Tapi gossip tentang Teh Dewi pernah menggunakan gigi
berlian membuat Zahra penasaran.
“Bener gitu Teh?” tanyanya.
“Bener,” jawab Teh Dewi.
Mang Adin tiba-tiba menjawab, “Ayeuna mah batu berlian na
tos digentos ku batu akik,”
Kami semua tertawa, lalu menggoda Mang Adin. “Cieee Mang
Adin ngelucu Cieee,”.
Bahkan Giri yang biasanya tidak banyak bicara pun kali ini
bisa melucu. Malam sebelum kami tidur, Giri memanggil Vika sang istri.
“Teh?”
“Iya a?” jawab Vika.
“Jangan lupa pake buff,” Buff adalah kain semacam syal untuk
menutupi wajah.
“Kenapa?” Tanya Vika.
Kami kira Giri akan menjawab, takut ada hewan kecil yang
masuk ke hidung. Tapi ternyata,
“Ngorok teteh gede,”
Serentak kami tertawa terbahak-bahak, karena Giri jarang
sekali berbicara selama perjalanan. Lagi, kami menggodai, “Cieee a Giri ngelucu
cieee,”
Berkebalikan dengan Dina, Vika istri Giri sangat manja dan
tergantung pada suami. Lebih dari seratus kali kami mendengar Vika mengeluh,
“Aa.. tolongin..”
“Aa atuh aa.. teteh Teh cape,”
“Aa.. teteh Teh gemuk jadi wajar atuh lambat,”
“Aa.. anterin pipis,”
“Aa.. a amah nggak ngerti ya sama teteh,”
Padahal anak sulungnya yang ikut pun tidak mengeluh seperti
itu. Saking seringnya memanggil, “Aa..” kami sering menggodain. Terutama Rosan,
Acong, dan Qinoy. Mereka sering menyindir, “Aa.. ombeh-in aku dong aa. Cebok-in
aku aa,”. Vika hanya tertawa saja disindir seperti itu.
Walk4free pada dasarnya bertujuan untuk membebaskan diri
dari hal-hal negative. Karena itu sebisa mungkin perjalanan ini diisi oleh
obrolan-obrolan yang positif. Saat itu kami sedang membahas pentingnya kata ‘punteun’
atau ‘maaf’ ketika minta tolong pada seseorang. Dina langsung memanfaatkan
momen ini.
“Osan, punteun lah geura beresan tenda,” katanya pada Rosan.
“De, punteun lah pangbereskeun tenda,” Rosan malah menyuruh
Zahra.
“A Qinoy, punteun lah ceuk a Osan pangbereskeun tenda,”
Zahra menyuruh Qinoy.
“Cong, itu punteun ceuk si Ade pangbereskeun tenda,” Qinoy
meminta pada Acong.
“Din, sori pisan pangbereskeun tenda,”
Kami langsung tertawa. Kapan ada ujungnya
Banyak gossip percintaan yang terjadi selama perjalanan.
Tentu saja bukan benar-benar kenyataan. Awalnya Teh Dewi digosipkan dengan
Acong si brondong. Lalu Acong digosipkan dengan Zakia (yang merupakan anak
sulung Vika dan Giri), Zahra, dan Dina. Dina yang mengungkapkan pada Acong
bahwa Acong telah mengalihkan dunianya (tentu saja ini tidak betulan). Kaka
digosipkan dengan Rosan, Acong, Qinoy, dan Mang Adin. Tapi yang paling hangat
adalah gossip cinta segitiga antara Rosan, Qinoy, dan Acong. Diduga, alasan 3
pria lajang ini belum menikah adalah karena ada rasa terpendam antara
ketiganya. Di gunung, orientasi seksual menjadi remang. Rosan mendadak gemulai,
“aduuh, celana ekeu melorot booo,”. Qinoy mendadak ingin menggunakan lipstick
Zahra supaya terlihat cantik di depan Acong dan katanya supaya lebih enak bermanja-manja
dengan Acong. Giri menolong Qinoy dengan memegang tangannya saja langsung
disoraki, “Cieee pegangan tangan cieee,”
Entahlah, dengan siapa akhirnya mereka berjodoh.
Ketika sharing feeling, Acong mengungkapkan bahwa naik
gunung bersama tim walk4free Grapiks benar-benar fun dan penuh canda tawa. Vika
mengaku tak sabar dengan perjalanan walk4free selanjutnya. Rosan juga
mengungkapkan bahwa walk4free ini bisa mempererat hubungan emosional. Ia dan
Acong yang ketika SMA tidak terlalu dekat, justru dekat ketika naik gunung. Rosan
juga ingin menghilangkan hal-hal negative dari dirinya. Dan hal-hal tersebut
menurutnya bisa dilatih dengan naik gunung. Sense of help, humor, discuss,
semuanya terlatih dengan sendirinya. Menurut Giri, naik gunung membuatnya memahami
karakter banyak orang, termasuk karakter istrinya. Para pria dituntut untuk
kuat karena hampir kelima pria itu membawa carrier dengan beban yang super
berat, bahkan ketika perjalanan pulang, bawaannya tak kunjung habis.
Tapi perjalanan ini tak sepenuhnya menyenanglkan. Beberapa
jam terakhir di perjalanan pulang, kami diguyur hujan. Emosi kami teruji,
dengan 15 jam perjalanan pulang yang hanya beberapa kali istirahat. Ditambah
jalur pulang yang lebih panjang dari jalur naik. Kami baru sampai di pemukiman
warga pukul 1 malam, dan sampai di basecamp grapiks pukul 7 pagi. Zakia sempat
mengalami drop, padahal selama di puncak ia sangat ceria dan selalu tertawa.
Tapi kondisi hujan dan kelelahan, ditambah pacet yang ada di kakinya, membuat
Zakia sedikit shock di perjalanan pertamanya naik gunung ini.
Rosan dan Qinoy mengalami sakit kaki yang lebih parah dari
biasanya. Acong juga sempat beberapa kali terjatuh. Rosan mengejek, “Labuh
maneh?”. Acong dengan gengsi menjawab, “Teu, urang mah teu labuh da,”.
Salut untuk Mang Adin, Teh Dewi, dan Zakia. Tiga orang yang
sering kami khawatirkan tidak bisa sampai ke puncak, tapi ternyata semuanya
bisa sampai dengan selamat. Rosan bilang, ada yang harus diselesaikan dalam
setiap perjalanan. Ya, semua hambatan-hambatan dan kesulitan itulah yang harus
diselesaikan. Tapi semuanya terbayar ketika kami sampai di puncak. Ciremai
bagai negeri di atas awan. Dengan segala kecantikannya.
Kami ingin terus ber-walk4free. Berolahraga jalan-kaki.
Seperti kata Vika,
“Daripada beli morphin untuk mengeluarkan endorphin, mending
olahraga deh,”
Hehe. Setuju. Mari terus ber-walk4free kawan.
Rabu, 11 Februari 2015
Suka Duka Membuat Skripsi
Orang bilang, ujian membuat skripsi nggak ada apa-apanya dibandingkan ujian kehidupan. Ngeri yah. Skripsi aja udah segini memilukannya.
Tapi kemarin lusa A Osan cerita, dia lulus 7 tahun dan mahasiswa terakhir yang lulus diantara semua temen seangkatannya di Unikom. Dia ngehibur Z dengan bilang SPP di UIN itu murah, nggak kayak dia dulu. Dan seenggaknya Z nggak sendirian, masih ada satu dua orang menemani. Lumayan sih Z jadi sedikit semangat, meskipun suka sedih kalau inget semua temen cewek di kelas udah lulus.
Hiburan lainnya datang dari Ansanu. Dia yang penelitiannya gagal total dari sejak persemaian aja enjoy banget. Dan dia nyuruh Z nggak lihat orang-orang yang udah lulus, soalnya kita malah jadi nggak bersyukur. Harusnya liat orang-orang yang lebih tua dari kita dan belum juga lulus.
Hihi. Bener nggak ya harus gitu
Tapi kemarin lusa A Osan cerita, dia lulus 7 tahun dan mahasiswa terakhir yang lulus diantara semua temen seangkatannya di Unikom. Dia ngehibur Z dengan bilang SPP di UIN itu murah, nggak kayak dia dulu. Dan seenggaknya Z nggak sendirian, masih ada satu dua orang menemani. Lumayan sih Z jadi sedikit semangat, meskipun suka sedih kalau inget semua temen cewek di kelas udah lulus.
Hiburan lainnya datang dari Ansanu. Dia yang penelitiannya gagal total dari sejak persemaian aja enjoy banget. Dan dia nyuruh Z nggak lihat orang-orang yang udah lulus, soalnya kita malah jadi nggak bersyukur. Harusnya liat orang-orang yang lebih tua dari kita dan belum juga lulus.
Hihi. Bener nggak ya harus gitu
Minggu, 08 Februari 2015
Rabu, 04 Februari 2015
Perjalanan Menuju Sarjana Pertanian
Di hari dimana Z jadi satu-satunya peserta sidang kolokium yang nggak
lulus, Z memutuskan pindah kamar dari rumah ke kamar di saung. Tadinya
untuk menenangkan hati dan mengasingkan diri dari hiruk pikuk dan
keramaian. Eh taunya malah makin pusing karena kamar yang bekas gudang
itu sudah jadi habitat beberapa hewan kebun seperti : lege, tokek, semut
hitam besar yang kalau menggigit menimbulkan benjolan, cicak, nyamuk,
tikus yang suka nyuri makanan dan ngegigitin semua barang dan bisa
ngangkut sekeresek beras, siraru, kecoa, bahkan sesekali kelelawar, plus
suara anjing yang mengaum seperti srigala setiap malam.
Kumaha bisa menenangkan diri coba.
Disana setiap malam Z donlot video-video lucu Cak Lontong di acara Indonesia Lawak Klub. Lumayan bikin ngakak dan untuk sementara masalah skripsi terlupakan. Setiap kali Z ngakak-ngakak di dalam kamar, si Abi langsung marah-marah dari luar. “Eta teh keur nanaonan sih dijero? Lainna mereskeun skripsi kalakah seuseurian sorangan!!!” (Itu lagi ngapain sih di dalam? Bukannya beresin skripsi malah ketawa-ketawa sendiri!!!)
Besoknya Z tau dari Mamah kalau Abi bilang gini ke Mamah, “Mah, si ade teh kudu dipariksakeun. Bisi stress ku skripsi. Sok seuseurian sorangan di saung,” (Mah, si ade harus diperiksa. Takutnya stress gara-gara skripsi. Suka ketawa-ketawa sendiri di saung). Hihi. Aya-aya wae.
Selama dua bulan Z lupa skripsi, suatu hari Mamah bilang gini, “Ade, Mamah mah sedih ninggali si Abi meuni menggebu hayang ade lulus. Komo si Abi mah ni semangat ngabantuan penelitian. Sok tong ninggali Mamah, tong ninggali dosen, tong ninggali sasaha. Tinggali we si Abi. Geus lulus mah berekeun we ijazah na ka si Abi da si Abi nu hayang ade lulus,” (Ade, Mamah sedih liat Abi menggebu ingin ade lulus. Apalagi si Abi semangat banget bantuin penelitian. Udah lah sekarang mah jangan liat Mamah, jangan liat dosen, jangan liat siapa-siapa. Liat Abi aja. Udah lulus mah kasih aja ijazahnya ke Abi karena dia yang paling ingin ade lulus.)
Akhirnya mulailah dari situ Z bimbingan lagi dibantu temen sekelas Z si Adul dan Eka plus diarahkan sama pembimbing dan penguji.
Lalu sampailah di bulan Januari dimana itu adalah bulan kesempatan terakhir sidang kolokium bagi yang mau lulus semester ini. Alangkah soaknya aku ketika Pak pembimbing nyuruh Z penelitian ulang karena sampel yang diambil cuman 4 biji dari 300 tanaman. Harusnya untuk sampel itu minimal 10%. Z minta solusi lain selain ngulang penelitian karena kesempatan sidang terakhir cuman sebulan lagi. Tapi solusinya cuman ada dua, ngulang penelitian atau ganti pembimbing. Akhirnya mau nggak mau Z milih opsi pertama.
Sepanjang perjalanan pulang ke rumah, Z nangis sesenggukan. Gimana bilang ke Mamah dan Abi, kalo Z nggak jadi lulus semester ini. Belum lagi nyesek banget ditinggal lulus semua temen-temen cewek di kelas. Nyampe saung, Z nelepon Surya yang lagi KKM di Garut. Tanpa basa basi, pas telepon diangkat Z langsung nangis meraung-raung, “SURYAAAA… HUAAAAAAAA… HUAAAAAAAAA… HUAAAAAAA…”
“Halo halo? Teh? Maaf Surya nya lagi di kamar mandi. Ini temennya,”
Aduh gondok. Lagi dramatis-dramatisnya gini malah dirusak suasananya. Hihi. *Bahkan disaat-saat tersedih dalam hidup kita sekalipun, selalu aja ada hal yang membuat kita tertawa*
Pas besoknya kaka Dina cerita, dia ditanya tukang konter di pangkalan ojeg bawah, “Teh kemarin adiknya turun dari angkot sambil nangis ya, kenapa?”. Z bener-bener nggak sadar kalau di pangkalan ojeg waktu itu ada banyak orang.
Z cerita ke Mamah dan Abi tentang kabar sedih ini. Lalu Mamah bilang “Keun teu nanaon. Sok dijalani. Pasti aya hikmahna. Engke pas lulus karasa puas na. Ulah leutik hate. Di tempat lain mah loba nu ujianna leuwih gede ti ade tapi bisa ngajalani,”
Disitu Z mulai tenang. Apalagi si Abi juga malah seuseurian, “Da maneh mah salah atuh. Maenya nyokot sampel tinu 300 siki ngan 4 sampel. Sampel mah minimal 10%, semakin banyak semakin bagus. Yeuh kieu kieu ge Abi nyaho masalah kitu mah,”. Hadeuh, mulai deh pamer. “Bae, pengalaman adalah guru yang utama,” katanya lagi. Alhamdulillah, punya orang tua yang selalu menguatkan.
Mungkin ini adalah sepersekian jawaban dari doa yang suka Z panjatkan selama ini.
“Ya Allah, aku bukan pembuat skripsi yang baik. Tapi jadikanlah aku seorang petani yang baik,”
Amin. Semoga kegagalan-kegagalan ini jadi salah satu jalan terbentuknya Sang Petani Farm yang lebih baik lagi.
Kumaha bisa menenangkan diri coba.
Disana setiap malam Z donlot video-video lucu Cak Lontong di acara Indonesia Lawak Klub. Lumayan bikin ngakak dan untuk sementara masalah skripsi terlupakan. Setiap kali Z ngakak-ngakak di dalam kamar, si Abi langsung marah-marah dari luar. “Eta teh keur nanaonan sih dijero? Lainna mereskeun skripsi kalakah seuseurian sorangan!!!” (Itu lagi ngapain sih di dalam? Bukannya beresin skripsi malah ketawa-ketawa sendiri!!!)
Besoknya Z tau dari Mamah kalau Abi bilang gini ke Mamah, “Mah, si ade teh kudu dipariksakeun. Bisi stress ku skripsi. Sok seuseurian sorangan di saung,” (Mah, si ade harus diperiksa. Takutnya stress gara-gara skripsi. Suka ketawa-ketawa sendiri di saung). Hihi. Aya-aya wae.
Selama dua bulan Z lupa skripsi, suatu hari Mamah bilang gini, “Ade, Mamah mah sedih ninggali si Abi meuni menggebu hayang ade lulus. Komo si Abi mah ni semangat ngabantuan penelitian. Sok tong ninggali Mamah, tong ninggali dosen, tong ninggali sasaha. Tinggali we si Abi. Geus lulus mah berekeun we ijazah na ka si Abi da si Abi nu hayang ade lulus,” (Ade, Mamah sedih liat Abi menggebu ingin ade lulus. Apalagi si Abi semangat banget bantuin penelitian. Udah lah sekarang mah jangan liat Mamah, jangan liat dosen, jangan liat siapa-siapa. Liat Abi aja. Udah lulus mah kasih aja ijazahnya ke Abi karena dia yang paling ingin ade lulus.)
Akhirnya mulailah dari situ Z bimbingan lagi dibantu temen sekelas Z si Adul dan Eka plus diarahkan sama pembimbing dan penguji.
Lalu sampailah di bulan Januari dimana itu adalah bulan kesempatan terakhir sidang kolokium bagi yang mau lulus semester ini. Alangkah soaknya aku ketika Pak pembimbing nyuruh Z penelitian ulang karena sampel yang diambil cuman 4 biji dari 300 tanaman. Harusnya untuk sampel itu minimal 10%. Z minta solusi lain selain ngulang penelitian karena kesempatan sidang terakhir cuman sebulan lagi. Tapi solusinya cuman ada dua, ngulang penelitian atau ganti pembimbing. Akhirnya mau nggak mau Z milih opsi pertama.
Sepanjang perjalanan pulang ke rumah, Z nangis sesenggukan. Gimana bilang ke Mamah dan Abi, kalo Z nggak jadi lulus semester ini. Belum lagi nyesek banget ditinggal lulus semua temen-temen cewek di kelas. Nyampe saung, Z nelepon Surya yang lagi KKM di Garut. Tanpa basa basi, pas telepon diangkat Z langsung nangis meraung-raung, “SURYAAAA… HUAAAAAAAA… HUAAAAAAAAA… HUAAAAAAA…”
“Halo halo? Teh? Maaf Surya nya lagi di kamar mandi. Ini temennya,”
Aduh gondok. Lagi dramatis-dramatisnya gini malah dirusak suasananya. Hihi. *Bahkan disaat-saat tersedih dalam hidup kita sekalipun, selalu aja ada hal yang membuat kita tertawa*
Pas besoknya kaka Dina cerita, dia ditanya tukang konter di pangkalan ojeg bawah, “Teh kemarin adiknya turun dari angkot sambil nangis ya, kenapa?”. Z bener-bener nggak sadar kalau di pangkalan ojeg waktu itu ada banyak orang.
Z cerita ke Mamah dan Abi tentang kabar sedih ini. Lalu Mamah bilang “Keun teu nanaon. Sok dijalani. Pasti aya hikmahna. Engke pas lulus karasa puas na. Ulah leutik hate. Di tempat lain mah loba nu ujianna leuwih gede ti ade tapi bisa ngajalani,”
Disitu Z mulai tenang. Apalagi si Abi juga malah seuseurian, “Da maneh mah salah atuh. Maenya nyokot sampel tinu 300 siki ngan 4 sampel. Sampel mah minimal 10%, semakin banyak semakin bagus. Yeuh kieu kieu ge Abi nyaho masalah kitu mah,”. Hadeuh, mulai deh pamer. “Bae, pengalaman adalah guru yang utama,” katanya lagi. Alhamdulillah, punya orang tua yang selalu menguatkan.
Mungkin ini adalah sepersekian jawaban dari doa yang suka Z panjatkan selama ini.
“Ya Allah, aku bukan pembuat skripsi yang baik. Tapi jadikanlah aku seorang petani yang baik,”
Amin. Semoga kegagalan-kegagalan ini jadi salah satu jalan terbentuknya Sang Petani Farm yang lebih baik lagi.
Keserempet Motor
Beberapa hari yang lalu Z keserempet seorang pengendara ninja ngebut
yang nyelip diantara motor Z dan sebuah motor lain yang nggak dikenal.
Pas jatuh, Z manggil-manggil si pengendara ninja warna ijo putih itu.
Dia cuman nengok ke belakang sekilas, abis itu tanpa rasa kasihan
sedikit pun dia langsung kabur. Ya ampun, rasanya bagaikan seorang
wanita yang jatuh cinta tapi cintanya bertepuk sebelah tangan. Gondok.
Z kan ngebonceng kaka Dina. Z langsung ngeliat kondisinya. Cuman telapak tangannya yang lecet, mungkin karena dia banyak amal baiknya, hihi. Tapi dia nangisnya kenceng banget karena ternyata darah yang bercucuran di aspal itu berasal dari luka di kening Z. Z yang asalnya nggak kenapa-napa mendadak shock dan menjatuhkan diri ke pelukan seorang satpam yang berdiri di samping Z. Ooh soswitnyaaa.
Setelah dilarikan ke RS Uber dan cuman dibersihin luka-luka di badan, mereka nyuruh kita ke RSHS karena nggak sanggup ngejait luka yang konon dalamnya sampai ke tulang. Pas lagi nunggu surat rujukan ke RSHS, ada ibu-ibu cerita sodaranya kemarin ketabrak truk fuso sampe paru-parunya ancur, tapi masih bisa ditangani di RS AMC. Daripada jauh-jauh ke RSHS, akhirnya kita memutuskan ke RS AMC yang lebih deket. Di AMC, alhamdulillah dokter bilang luka itu masih bisa dijait biasa, nggak nyampe ke tulang.
Pas dapat kabar Z masuk UGD, si abi marah-marah di telepon, "Da daharna cengek wae budak teh!!" (Makan cengek terus anak ini mah). Dia nyangkanya magh Z kambuh. Hihi. Angger sok sotoy.
Z sedikit merenung setelah kejadian ini. Begitu mudahnya fisik kita berubah. Muka yang asalnya cuman ada alis, mata, idung dan mulut sekarang ditambah dengan sebuah garis jaitan di kening. Rencana-rencana yang sudah kita buat pun ikut berubah. Niat bulan januari mau ke acara peacetival, ke nikahan Sheila temen KKM, ke nikahan Irvan temen SD, bimbingan ckripci, dll, juga harus diubah.
Selama bulan desember Z dapat banyak kabar gembira. Mungkin dengan kejadian ini Allah ingin mengingatkan supaya kita tidak boleh terlalu gembira ketika mendapat kesenangan. Dan tidak terlalu sedih ketika ditimpa kesedihan. Karena sedih dan senang semuanya sudah dituliskan pada waktu yang ditentukan. Allah juga kasih sakit, supaya kita mengharap kehidupan lain yang kita tidak akan pernah merasakan sakit, sedih, gelisah, galau di dalamnya. Yaitu Surya. Eh, Surga maksud teh.
Akhirul kalam, saya mohon maaf kalau saya ada kesalahan. Keluarga, teman, kekasih, partner, senior, guru, dan semuuua orang yang pernah secara langsung atau tidak langsung tersakiti oleh saya. Banyak orang yang ingin saya minta maaf-i, tapi terhalang oleh rasa takut nggak diberi maaf. Heu.
Maapin aku yang imut ini yaaa kawan...
Z kan ngebonceng kaka Dina. Z langsung ngeliat kondisinya. Cuman telapak tangannya yang lecet, mungkin karena dia banyak amal baiknya, hihi. Tapi dia nangisnya kenceng banget karena ternyata darah yang bercucuran di aspal itu berasal dari luka di kening Z. Z yang asalnya nggak kenapa-napa mendadak shock dan menjatuhkan diri ke pelukan seorang satpam yang berdiri di samping Z. Ooh soswitnyaaa.
Setelah dilarikan ke RS Uber dan cuman dibersihin luka-luka di badan, mereka nyuruh kita ke RSHS karena nggak sanggup ngejait luka yang konon dalamnya sampai ke tulang. Pas lagi nunggu surat rujukan ke RSHS, ada ibu-ibu cerita sodaranya kemarin ketabrak truk fuso sampe paru-parunya ancur, tapi masih bisa ditangani di RS AMC. Daripada jauh-jauh ke RSHS, akhirnya kita memutuskan ke RS AMC yang lebih deket. Di AMC, alhamdulillah dokter bilang luka itu masih bisa dijait biasa, nggak nyampe ke tulang.
Pas dapat kabar Z masuk UGD, si abi marah-marah di telepon, "Da daharna cengek wae budak teh!!" (Makan cengek terus anak ini mah). Dia nyangkanya magh Z kambuh. Hihi. Angger sok sotoy.
Z sedikit merenung setelah kejadian ini. Begitu mudahnya fisik kita berubah. Muka yang asalnya cuman ada alis, mata, idung dan mulut sekarang ditambah dengan sebuah garis jaitan di kening. Rencana-rencana yang sudah kita buat pun ikut berubah. Niat bulan januari mau ke acara peacetival, ke nikahan Sheila temen KKM, ke nikahan Irvan temen SD, bimbingan ckripci, dll, juga harus diubah.
Selama bulan desember Z dapat banyak kabar gembira. Mungkin dengan kejadian ini Allah ingin mengingatkan supaya kita tidak boleh terlalu gembira ketika mendapat kesenangan. Dan tidak terlalu sedih ketika ditimpa kesedihan. Karena sedih dan senang semuanya sudah dituliskan pada waktu yang ditentukan. Allah juga kasih sakit, supaya kita mengharap kehidupan lain yang kita tidak akan pernah merasakan sakit, sedih, gelisah, galau di dalamnya. Yaitu Surya. Eh, Surga maksud teh.
Akhirul kalam, saya mohon maaf kalau saya ada kesalahan. Keluarga, teman, kekasih, partner, senior, guru, dan semuuua orang yang pernah secara langsung atau tidak langsung tersakiti oleh saya. Banyak orang yang ingin saya minta maaf-i, tapi terhalang oleh rasa takut nggak diberi maaf. Heu.
Maapin aku yang imut ini yaaa kawan...
Langganan:
Postingan (Atom)
